Jumat, 01 April 2016

IMPLEMENTASI BIMBINGAN DAN KONSELING TERHADAP KESULITAN BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN AKIDAH AKHLAK DISEKOLAH MADRASAH ALIYAH NEGERI MANDAH



IMPLEMENTASI BIMBINGAN DAN KONSELING TERHADAP KESULITAN BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN AKIDAH AKHLAK DI MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 MANDAH




  

          




OLEH :
ZALINA
NIMKO : 1209.12.06693

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN DARI PERSYARATAN DAN TUGAS-TUGAS GUNA MENCAPAI GELAR SARJANA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (STAI)
AULIAURRASYIDIN
TEMBILAHAN
TAHUN AKADEMIK 2015/2016


 

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Pendidikan adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan yang berlangsung disekolah dan diluar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat dimasa yang akan datang.[1]
Dalam undang-undang No.20/2003 tentang sistem pendidikan Nasional pasal 1 ayat (1) ditegaskan bahwa:
“Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”.[2]

1
 
Dari pendapat diatas dapat dilihat bahwa pendidikan menginginkan peserta didik bersikap aktif dan memiliki kemandirian dalam proses pembelajaran, untuk menjadikan peserta didik menjadi lebih baik terutama dalam proses belajar, agar dapat berperan kedalam berbagai lingkungan hidup secara tepat dimasa yang akan datang.
Seperti Bimbingan dan konseling di dunia pendidikan sangatlah penting untuk membantu dalam mengatasi permasalahan atau problem tertentu. Kebanyakan dari pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah bertindak sebagai keamanan sekolah, sehingga peran dan fungsinya dalam mengatasi sebuah masalah kurang berjalan sebagaimana mestinya.
Bimbingan konseling tidak hanya menangani siswa yang sedang bermasalah tetapi juga berfungsi: (1) Untuk pencegahan (preventif), (2) pemahaman dan (3) pengentasan (4) pemeliharaan (5) penyaluran (6) advokasi[3]
Para siswa di lingkungan tempat belajar dalam menuntut ilmu, banyak yang mengalami kendala atau hambatan dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) misalnya kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan, IQ yang rendah, sulit berkonsentrasi, gangguan pada jasmani dan rohani. Sehingga ini akan mengakibatkan siswa kesulitan dalam belajar dan akan berpengaruh pada prestasi siswa.
Idealnya pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah haruslah sama antara program dengan praktek, tetapi dalam kenyataan pelaksanaan bimbingan disekolah tidak sesuai antara program dan praktek di lapangan. Pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah bertujuan membantu pelaksanaan proses belajar mengajar disekolah. Secara khusus bertujuan membantu siswa agar dapat mencapai tujuan yang diinginkannya, perkembangan tidak lepas dari masalah yang dihadapi siswa baik itu bersumber dari diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
Dari uraian di atas, sehingga dapat dirumuskan beberapa fungsi dari lembaga konseling, yaitu (1) Pemahaman, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memahami diri dan lingkungannya.(2) Pencegahan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mampu mencegah atau menghindarkan diri dari berbagai permasalahan yang dapat menghambat perkembangan dirinya.(3) Pengentasan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mengatasi masalah yang dialaminya.(4) Pemeliharaan dan pengembangan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memelihara dan menumbuh-kembangkan berbagai potensi dan kondisi positif yang dimilikinya.(5) Advokasi, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memperoleh pembelaan atas hak dan atau kepentingannya yang kurang mendapat perhatian.
Disisi lain dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah sering diterjemahkan secara salah oleh pihak-pihak tertentu sehingga menimbulkan kesalah pahaman seperti pendapat yang mengatakan bahwa pelayanan bimbingan dan konseling hanya dapat dilaksanakan oleh tenaga konselor. Padahal bukan demikian adanya.
Menurut Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya mengatakan Pelaksanaan bimbingan dan konseling disekolah menjadi tanggung jawab bersama antara personil sekolah, yaitu kepala sekolah, guru-guru, guru kelas dan petugas lainnya.[4]
Penelitian ini akan menguraikan tentang peranan guru bidang studi dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah dan juga akan disinggung hal-hal yang mendasar dalam bimbingan dan konseling.
Berdasarkan studi pendahuluan di Madrasyah Aliyah Negeri 1 Mandah, dapat diketahui bahwa petugas bimbingan konseling khususnya guru bidang studi telah berupaya secara maksimal melaksanakan tugasnya dalam mengatasi kesulitan belajar siswanya khususnya mata pelajaran Akidah Akhlak dalam proses kegiatan belajar mengajar. Namun pada kenyataannya, penulis menemukan realita yang terjadi di Madrasyah Aliyah Negeri 1 Mandah, masih terdapat siswa yang lambat dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru sehingga menunjukan prestasi yang tidak diharapkan. Di samping itu juga faktor-faktor lain yang mempengaruhi kesulitan belajar, antara lain faktor intern dan ekstern.
Dari fenomena di atas, penulis tertarik untuk meneliti mengapa terjadi kesenjangan antara upaya petugas Bimbingan dan konseling khususnya guru bidang studi Akidah Akhlak di madrasyah Aliyah Negeri 1 Mandah dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling dengan baik sehingga tidak mengalami kesulitan dan hambatan dalam proses kegiatan belajar mengajarnya di sekolah.
Kehadiran petugas bimbingan dan konseling khususnya guru bidang studi Akidah Akhlak yang mempunyai kesempatan untuk bertatap muka lebih banyak kepada siswa dibandingkan dengan personil lainnya. diharapkan dapat memberikan bantuan kepada peserta didik dengan cara antara lain : mengenali peserta didik, memahami sifat dan jenis masalah pesrta didik, menetapkan latar belakang tentang kesulitan belajar.
Dengan melihat gejala-gejala diatas, penulis berminat melakukan suatu penelitian dengan judul : “Implementasi Bimbingan Dan Konseling Terhadap Kesulitan Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak Di Madrasyah Aliyah Negeri 1 Mandah.”
B.  Alasan Memilih Judul
Alasan penulis memilih judul Implementasi bimbingan dan konsling terhadap kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran akidah akhlak di Madrasah Aliyah Negeri 1 Mandah adalah sebagai berikut :
1.  Bimbingan dan konsling sangat diperlukan dalam membimbing kesulitan belajar siswa oleh karena itu perlu adanya Implementasi bimbingan dan konseling terhadap kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran akidah akhlak
2.  Permasalahan ini aktual dan perlu diteliti
3.  Adanya teori-teori yang mendukung dalam penelitian ini
C.  Penegasan Istilah
Untuk menghindari kesalah pahaman dalam memahami judul pada penelitian ini, maka penulis membuat penegasan istilah sebagai berikut :
1.  Implementasi
Implementasi merupakan “pelaksanaan, penerapan”.[5] Sedangkan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penerapan bimbingan dan konseling terhadap kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran akidah akhlak di Madrasah Aliyah Negeri 1 Mandah.
2.  Bimbingan dan konseling
Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial,kemampuan belajar, dan perencanaan karier,melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku.[6]
Sedangkan yang dimaksud dengan penelitian ini adalah pelayanan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam mengatasi kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak di Madrasyah Aliyah Negeri 1 Mandah
3.  Kesulitan
Kesulitan merupakan “keadaan yang sulit, sesuatu yang sulit”[7] sedangkan yang dimaksud didalam penelitian ini adalah keadaan yang sulit atau sesuatu yang sulit yang dihadapi oleh siswa dalam belajar Akidah Akhlak



4.  Belajar
Belajar adalah suatu proses perubahan prilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu.[8]
Sedangkan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu proses perubahan prilaku siswa dalam belajar Akidah Ahlak disekolah Madrasyah Aliyah Negeri 1 Mandah
5.  Siswa
Siswa/ anak didik adalah subjek yang belajar.[9] sedangkan yang dimaksud dengan siswa dalam penelitian ini adalah subjek yang belajar mata pelajaran Akidah Akhlak di sekolah Madrasyah Aliyah Negeri 1 Mandah
6.  Akidah Akhlak
Akidah Akhlak adalah “ mata pelajaran yang mengajarkan tentang Akhlah yang sesuai dengan ajaran islam”.[10] Yang dimaksud dengan Akidah Akhlah pada penelitian adalah mata pelajaran Akidah Akhlak di Madrasyah Aliyah Negeri 1 Mandah.
D. Permasalahan
1.  Identifikasi Masalah
Adapun Identifikai masalah dalam penelitian ini antara lain :
a.  Bagaimana Implementasi bimbingan dan konseling terhadap kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak di sekolah Madrasyah Aliyah Negeri 1 Mandah.
b.  Apa faktor-faktor yang mendukung Implementasi bimbingan dan konseling terhadap kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak di sekolah Madrasyah Aliyah Negeri 1 Mandah.
c.  Apa faktor-faktor yang menghambat tugas guru untuk mengimplementasi bimbingan dan konseling terhadap kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak di sekolah Madrasyah Aliyah Negeri 1 Mandah.
2.  Batasan masalah
Berdasarkan identifikasi masalah diatas maka dapat peneliti batasi masalah dengan memfokuskan tentang Implementasi bimbingan dan konseling terhadap kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran akidah akhlak di Madrasah Aliyah Negeri 1 Mandah
3.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka disusunlah suatu rumusan masalah adalah Bagaimana Implementasi bimbingan dan konseling terhadap kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran akidah akhlak di Madrasah Aliyah Negeri 1 Mandah
E. Tujuan penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah sebagai berikut :
“untuk mengetahui bagaimana Implementasi bimbingan dan konseling terhadap kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran akidah akhlak di Madrasah Aliyah Negeri 1 Mandah”
F. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.  Bagi sekolah
Sebagai bahan pertimbangan untuk memotivasi guru dan siswa dalam rangka perbaikan dan meningkatkan mutu pendidikan agama islam di madrasyah aliyah Negeri 1 Mandah
b.  Bagi siswa
1.  Siswa dapat mengetahui perkembangan kemampuan belajarnya secara langsung baik saat proses pembelajaran berlangsung ataupun setelah proses pembelajaran secara langsung
2.  Memberikan pengalaman belajar yang baru bagi siswa
c.  Bagi guru
1.   Dapat mengevaluasi program pembelajaran guru
2.   Guru dapat mengetahui kekurangannya dalam mengajar sehingga dapat diperbaiki di pertemuan selanjutnya
d.  Bagi peneliti
1.    Memberikan pengalaman langsung kepada guru khususnya guru bidang studi akidah akhlak untuk mengimplementasi bimbingan dan konseling terhadap kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran akidah akhlak di Madrasah Aliyah Negeri 1 Mandah
2.    Memeberikan bekal untuk peneliti sebagai calon guru dalam proses belajar mengajar





















BAB II
LANDASAN TEORI
A.  Bimbingan Dan Konseling
1. Pengertian bimbingan dan konseling
Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu agar dengan potensi yang dimiliki mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa depan yang lebih baik[11]
Pengertian bimbingan dan konseling menurut para ahli
a.  Miller (1961) dalam surya (1988)
14
 
Menurut Miller dalam surya, menyatakan bahwa bimbingan merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum kepada sekolah, keluarga dan masyarakat.[12]
b. Menurut Tolbert
Bimbingan adalah seluruh program atau semua kegiatan dan layanan dalam lembaga pendidikan yang diarahkan pada membantu individu agar mereka dapat menyusun dan melaksanakan rencana serta melakukan penyesuain diri dalam semua aspek kehidupannya sehari-hari.[13]
Jadi dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada seseorang baik itu laki-laki maupun perempuan guna untuk melakukan penyesuai dirinya agar dapat menjadi lebih baik.
Sedangkan istilah konseling (counsling) didalam kamus artinya dikaitkan dengan kata “counsel” memiliki beberapa arti, yaitu nasihat (to obtain counsel), anjuran (to give counsel), dan pembicaraan (to take counsel). Berdasarkan arti diatas, konsling secara etimologi bearti pemberian nasihat, anjuran dan pembicaraan dengan bertukar pikiran.[14]

Pengertian konseling menurut para ahli
a.    Jones
Menurut Jones konseling adalah kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan, dimana ia diberi bantuan pribadi dan langsung dalam pemecahan masalah untuk klien. Konseling harus ditujukan pada perkembangan yang progresif dari individu untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri tanpa bantuan.
b.    Pepinsky & pepinsky, dalam Shartzer & Stone
Menurut Pepinsky & pepinsky, dalam Shartzer & Stone, intraksi yang (a) terjadi antara dua orang individu, masing-masing disebut konselor dan klien ; (b) terjadi dalam suasana yang profesional; (c) dilakukan dan dijaga sebagai alat memudahkan perubahan-perubahan dalam tingkah laku klien.
c.    Maclean, dalam Sherzer & Stone
Menurut Maclean, dalam Sherzer & Stone, konseling adalah suatu peroses yang terjadi dalam hubungan tatap muka antara seorang individu yang terganggu oleh karena masalah-masalah yang tidak dapat diatasinya sendiri dengan seorang pekerja yang profesional, yaitu orang yang telah terlatih dan berpengalaman membantu orang lain mencapai pemecahan-pemecahan terhadap berbagai jenis kesulitan pribadi.[15]
Jadi dari uraian diatas dapat disimpulkan konseling merupakan pemberian bantuan kepada individu melalui empat mata yaini antara konselor dan klien guna untuk membantu masalah-masalah yang dihadapi siswa baik itu kesulitan pribadi ataupun kesulitan dalam belajarnya.
2.  Fungsi Bimbingan Dan Konseling
Ditinjau dari segi dan sifatnya, layanan bimbingan, dan konseling dapat berfungsi :
a.  Fungsi Pencegahan (preventif)
Merupakan usaha pencegahan terhadap timbulnya masalah. Dalam  fungsi pencegahan ini layanan yang diberikan berupa bantuan bagi para siswa agar terhindar dari berbagai masalah yang dapat menghambat perkembangannya. Kegiatan yang berfungsi pencegahan ini dapat berupa program orientasi, program bimbingan karier, dan investasi data.
b.  Fungsi pemahaman
Fungsi pemahaman yang dimaksud yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan keperluan pengembangan siswa. Pengembangan ini mencangkup :
1.  Pemahaman tentang diri siswa, terutama oleh siswa sendiri, orang tua, guru, dan guru pembimbing.
2.  Pemahaman tentang lingkungan siswa (termasuk didalamnya lingkungan keluarga dan sekolah), terutama oleh siswa sendiri, orang tua, guru, dan guru pembimbing.
3.  Pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas (termasuk di dalamnya informasi pendidikan, jabatan/pekerjaandan/ karier, dan informasi budaya/nilai-nilai), terutama oleh siswa.
c.  Fungsi perbaikan
Fungsi perbaikan ini adalah fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan terpecahankannya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami siswa.
d.  Fungsi pemeliharaan dan pengembangan
Fungsi ini bearti bahwa layanan bimbingan dan konseling diberian dapat membantu para siswa dalam memelihara dan mengembangkan keseluruhan pribadinya secara mantap, terarah, dan berkelanjutan.[16]
3.  Tujuan Bimbingan Dan Konseling
a.  Tujuan umum
Tujuan umum dari layanan bimbingan dan konseling adalah sesuai dengan tujuan pendidikan, sebagaimana dinyatakan dalam undang-undang sistem pendidikaan nasional (UUSPN) Tahun 1989 (UU No.2/1989), yaitu terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas, yang beriman, dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa dan budi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. ( Depdikbud ).
b.  Tujuan khusus
Secara khusus layanan bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu siswa agar dapat mencapai tujuan-tujuan perkembangan meliputi aspek pribadi sosial, belajar dan karier. Bimbingan pribadi sosial dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan tugas perkembangan pribadi sosial dalam mewujudkan pribadi yang takwa, mandiri, dan bertanggung jawab. Bimbingan belajar dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan tugas perkembangan pendidikan, bimbingan karier dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan tugas perkembangan pendidikan. Bimbingan karier dimaksudkan untuk mewujudkan pribadi pekerja yang produktif.[17]
4.  Langkah-langkah bimbingan dan konseling
Menurut Anas Salahudin Dalam pemberian bimbingan, terdapat langkah-langkah sebagai berikut :

a. Langkah identifikasi anak
Langkah ini dimaksudkan untuk mengenal anak beserta gejala-gejala yang tampak. Dalam langkah ini, pembimbing mancatat anak-anak yang perlu mendapat bimbingan dan memilih anak yang perlu mendapat bimbingan lebih dahulu.
b. Langkah diagnosis
Langkah diagnosis yaitu langkah untuk menetapkan masalah yang dihadapi anak beserta latar belakangnya.
c. Langkah prognosis
Langkah prognosis yaitu langkah untuk menetapkan jenis bantuan yang akan dilaksanakan untuk membimbing anak.langkah prognosis ini ditetapkan masalahnya dan latar belakangnya. langkah prognosis ini,ditetapkan bersama setelah mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan berbagai faktor.
d. Langkah terapi
Langkah terapi yaitu, langkah pelaksanaan bantuan atau bimbingan langkah ini merupakan pelaksanaan yang ditetapkan dalam langkah prognosis.
e. Langkah evaluasi dan follow-up
Langkah ini dimaksudkan untuk menilai atau mengetahui sejauh manakah terapi yang telah dilakukan dan telah mencapai hasilnya. Dalam langkah follow-up atau tindak lanjut, dilihat perkembangan selanjutnya, dalam jangka waktu yang lebih jauh.[18]
Menurut Tohirin langkah-langkah bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut:
1.  Menentukan masalah
Menentukan masalah dapat terlebih dahulu melakukan identifikasi masalah (identifikasi kasus) yang dialami oleh siswa
2.  Pengumpulan masalah
mengumpulkan data siswa yang bersangkutan. Data siswa yang dikumpulkan harus secara komprehensif (menyeluruh), dalam penelitian ini diharapkan kepada guru mengumpulkan data yang berkenaan dengan belajar yaini mengumpulkan data siswa dengan tes dan nontes
3.  Analisa data
Data-data siswa yang telah dikumpulkan selanjutnya dianalisis. Dari analisis data akan dapat diketahui siapa siswa dan apa sesungguhnya masalah yang dialami siswa tersebut.
4.  Diagnosis
Diagnosis merupakan usaha pembimbing (konselor) menetapkan latar belakang masalah atau factor-faktor penyebab masalah siswa.
5.  Prognosis
Setelah mengetahui masalah yang dihadapi siswa selanjut pembimbing atau konselor menetapkan langkah-langkah bantuan yang akan diambil,sesuai dengan masalah yang dihadapi siswa baik itu berupa tes maupun nontes
6.  Terapi
Adalah langkah-langkah pemberian bantuan selanjutnya adalah melaksanakan jenis bantuan yang telah ditetapkan atau ditemukannya masalah bisa berupa bantuan individual, kelompok, pengajaran perbaikan, pemberian pengajaran dan sebagainya.
7.  Evaluasi atau Follow Up
Evaluasi dilakukan untuk melihat apakah upaya bantuan yang telah diberikan kepada siswa memperoleh hasil yang baik ataukah tidak.[19]

Menurut H.M. Umar dan Sartono dalam memberikan bimbingan, biasanya dikenal langkah-langkah berikut :
a. Langkah identifikasi anak
Langkah ini dimaksudkan untuk mengenal anak beserta gejala-gejala yang Nampak. Dalam langkah ini pembimbing mencatat anak-anak yang perlu mendapat bimbingan dan memilih anak mana yang perlu mendapat bimbingan lebih dahulu.
b. Langkah diagnosa
Yaitu langkah untuk menetapkan masalah yang dihadapi anak beserta latar belakangnya. Dalam langkah ini kegiatan yang dilakukan ialah mengumpulkan data dengan mengadakan studi terhadap anak, menggunakan berbagai studi terhadap anak, menggunakan teknik pengumpulan data.
c. Langkah pragnosa
Yaitu langkah untuk menetapkan jenis bantuan apa yang akan dilaksanakan untuk membimbing anak.langkah pragnosa ini ditetapkan berdasarkan kesimpulan dalam langkah diagnosa, yaitu setelah ditetapkan masalah dan latar belakangnya.
d. Langkah terapi
Yaitu langkah pelaksanaan bantuan atau bimbingan. Langkah ini merupakan pelaksanaan apa-apa yang ditetapkan dalam langkah pragnosa. Pelaksanaan ini tentu memakan banyak waktu dan proses dan kontinu dan sistematis, serta memerlukan adanya pengamatan yang cermat.
e. Langkah evaluasi dan Follow-up
Langkah ini dimaksudkan untuk menilai atau mengetahui sejauh manakah terapi yang telah dilakukan dan telah mencapai hasilnya. Dalam langkah Follow-up atau tindak lanjut, dilihat perkembangan selanjutnya dalam jangka waktu yang lebih jauh.[20]
Dari beberapa teori diatas, dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah bimbingan dan konseling  yang dapat dilakukan oleh guru bidang setudi antara lain adalah sebagai berikut :
1    Menentukan masalah yang dihadapi siswa dalam belajar Akidah Akhlak
2    Mengumpulkan data siswa yang mengalami masalah dalam belajar akidah akhalak yaini mengumpulkan data siswa dengan tes dan Nontes
3    Melakukan analisa data siswa dalam belajar Akidah Akhlak
4    Melakukan diagnosis kepada siswa dalam belajar Akidah Akhlak
5    Menetapkan langkah-langkah bantuan yang akan diberikan kepada siswa dalam belajar Akidah Akhlak
6    Memberikan bantuan atau pelaksanaan yang telah ditetapkan dalam langkah-langkah prognosis
7    Melakukan evaluasi kepada siswa dalam belajar Akidah Akhlak untuk mengetahui sejauh mana bantuan yang diberikan kepada siswa dalam belajar Akidah Akhlak itu tercapai
8    Melihat perkembangan siswa dalam belajar Akidah Ahklak.
B.  Kesulitan Belajar Siswa
1.  Pengertian kesulitan belajar.
Kesulitan belajar merupakan terjemahan dari istilah bahasa inggris learning disability. Terjemahan tersebut sesungguhnya kurang tepat karena learning artinya belajar dan disability artinya ketidakmampuan ; sehingga terjemahan yang benar seharusnya adalah ketidakmampuan belajar.
Definisi kesulitan belajar pertama kali dikemukakan oleh the United States Office of Education (USOE)seperti berikut ini.
“ kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencangkup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran atau tulisan.gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau berhitung.”[21]

Burton mengidentifikasi seorang siswa kasus dapat dipandang atau dapat diduga mengalami kesulitan belajar kalau yang bersangkutan menunjukkan kegagalan (failure) tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya. Kegagalan belajar didefinisikan oleh Burton sebagi berikut.
1.  Siswa dikatakan gagal apabila dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tungkat penguasaan (level of mastery) minimal dalam pelajaran tertentu, seperti yang telah ditetapkan oleh orang dewasa atau guru (criterion referenced). Dalam konteks sistem pendidikan di Indonesia angka nilai batas lulus (passing grade, grade-standandard-basis) itu ialah angka 6 atau 60 atau C (60% Dari tingkat ukuran yang diharapkan atau ideal). Kasus siswa semacam ini dapat digolongkan kedalam lower group.
2.  Siswa dikatakan gagal apabila yang bersangkutan tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi yang semestinya (berdasarkan ukuran tingkat kemampuannya : intelegensi, bakat). Ia diramalkan (predicted) akan dapat mengerjakan nya atau mencapai suatu prestasi, namun ternyata tidak sesuai dengan kemampuannya. Kasus siswa ini dapat digolongkan kedalam under archievers
3.  Siswa dikatakan gagal kalau yang bersangkutan tidak dapat mewujudkan tugas-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian sosial sesuai dengan pola organismiknya (is organismic pattern) pada fase perkembangan tertentu, seperti yang berlaku bagi kelompok sosial dan usia yang bersangkutan (norm-referenced). Kasus siswa bersangkutan dapat dikatagorikan kedalam slow learners.
4.  Siswa dikatakan gagal kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan (level of mastery) yang diperlukan sebagai persyaratan ( prerequisite) bagi kelanjutan (continuity) pada tingkat pelajaran berikutnya. Kasus siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learners atau belum matang (immature)sehingga harus jadi pengulang (repeaters) pelajaran.
Dari keempat difinisi diatas, dapat kita simpulkan bahwa seorang siswa diduga mengalami kesulitan belajar kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai taraf kualifikasi hasil belajar tertentu (berdasarkan ukuran kriteria keberhasilan seperti yang dinyataka dalam TIK atau ukuran tingkat kafasitas atau kemampuan dalam program pelajaran time allowed dan atau tingkat perkembangannya).[22]
2.  Faktor-faktor kesulitan belajar
Fenomena kesulitan belajar seorang siswa biasanya tampak jelas dari menurunnya kinerja akademik atau prestasi belajarnya. Namun, kesulitan belajar juga dapat dibuktikan dengan munculnya kelainan prilaku (misbehavior) siswa seperti kesukaan berteriak-teriak didalam kelas, mengusik teman, berkelahi, sering tidak masuk sekolah, dan sering inggat dari sekolah.
Secara garis besar, faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam.
1.  Faktor intern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri.
2.  Faktor ekstern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa.
Kedua faktor ini meliputi aneka ragam hal atau keadaan yang antara lain tersebut dibawah ini.
a.  Faktor intern siswa
Faktor intern siswa meliputi gangguan atau kekurangmampuan psiko-fisik siswa, yakni:
1.  Yang bersifat ranah kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual/intelegensi siswa
2.  Yang bersifat efektif (ranah rasa), antara lain seperti lebihnya emosi dan sikap
3.  Yang bersifat psikomotor (ranah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indra penglihatan dan pendengar (mata dan telinga).

b.  Faktor ekstern siswa
Faktor ekstern siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa, faktor ini dapat dibagi tiga macam
1.  Lingkungan keluarga, contohnya: ketidak harmonisan hubungan antara ayah dan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga
2.  Lingkungan perkampungan/ masyarakat, contohnya: wilayah perkampungan kumuh (slum area), dan teman sepermainan (peer group) yang nakal
3.  Lingkungan sekolah, contohnya: kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru serta alat-alat belajar yang berkualitas rendah
Selain faktor-faktor yang bersifat umum diatas, ada pula faktor-faktor lain, yang juga menimbulkan kesulitan belajar siswa. diantara faktor-faktor yang dapat dipandang sebagai aktor khusus ini ialah sindrom psikologis berupa learning disability (ketidak mampuan belajar). Sindrom (syndrome) yang bearti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis (Reber, 1988) yang menimbulkan kesulitan belajar.
1.    Disleksa (dyslexia), yaini ketidak mampuan belajar membaca
2.    Disgrafia (dysgraphia), yaini ketidak mampuan belajar menulis
3.    Diskalkulia (dyscalculia), yaini ketidak mampuan belajar matematika[23]
Menurut Syaiful Bahri Djamarah faktor-faktor apa saja yang dapat menjadi penyebab kesulitan belajar anak didik, maka akan dikemukakan seperti berikut ini.
a.  Inteligensi (IQ) yang kurang baik
b.  Bakat yang kurang atau tidak sesuai dengan bahan pelajaran yang dipelajari atau yang diberikan oleh guru
c.  Faktor emosional yang kurang stabil.misalnya mudah tersinggung, pemurung, pemarah, selalu binggung dalam menghadapi masalah, selalu sedih tanpa alasan yang jelas
d.  Aktivitas belajar yang kurang. Lebih banyak malas dari pada melakukan kegiatan belajar. Menjelang ulangan bari belajar
e.  Kebiasaan belajar yang kurang baik, belajar dengan penguasaan ilmu pengetahuan pada tingkat hafalan, tidak dengan pengertian( insight ), sehingga sukar ditransfer kesituasi yang lain.
f.  Penyesaian sosial yang sulit.cepatnya penyerapan bahan pelajaran oleh anak didik tertentu menyebabkan anak didik susah menyesuaikan diri untuk mengimbanginya dalam belajar.
g.  Latar belakang pengalaman yang pahit. Misalnya, anak didik bekerja sambil sekolah.
h.  Cita-cita yang tidak relevan ( tidak sesuai dengan bahan pelajaran yang dipelajari )
i.  Latar belakang pendidikan yang dimasuki dengan sistem sosial dan kegiatan belajar mengajar dikelas yang kurang baik
j.  Ketahanan belajar ( lama belajar ) tidak sesuai dengan tuntutan waktu belajarnya.
k.  Keadaan fisik yang kurang menunjang
l.  Kesehatan yang kurang baik
m.  Seks atau pernikahan yang tak terkendali.misalnya terlalu intim dengan lawan jenis,berpacaran
n.  Pengetahuan dan keterampilan dasar yang kurang memadai ( kurang mendukung ) atas bahan yang sudah dipelajari.
o.  Tidak ada motivasi dalam belajar. Materi pelajaran sukar diterima dan diserap bila anak didik tidak memiliki motivasi untuk belajar.[24]
Faktor-faktor dari lingkungan sekolah yang dianggap dapat menimbulkan kesulitan belajar bagi anak didik, faktor-faktor tersebut adalah :
a.  Pribadi guru yang kurang baik
b.  Guru tidak berkualitas, baik dalam pengambilan metode yang digunakan ataupun dalam penguasaan mata pelajaran yang dipegangnya.
c.  Hubungan guru dengan anak didik kurang harmonis
d.  Guru-guru menuntut standar pelajaran diatas kemampuan anak.
e.  Guru tidak memiliki kecakapan dalam usaha mendiagnosis kesulitan belajar anak didik
f.  Cara mengajar guru yang kurang baik
g.  Alat/media yang kurang memadai
h.  Perpustakaan sekolah kurang memadai dan kurag merangsang penggunaanya oleh anak didik
i.  Fasilitas fisik sekolah yang tak memenuhi syarat kesehatan dan tak terpelihara dengan baik
j.  Suasana sekolah yang kurang menyenangkan
k.  Bimbingan dan penyuluhan yang tidak berfungsi
l.  Kepemimpinan dan administrasi
m.  Waktu sekolah dan disiplin yang kurang.[25]

3.    Cara mengenal anak didik yang mengalami kesulitan belajar
Gejala-gejala munculnya kesulitan belajar dapat diamati dalam berbagai bentuk. Ia dapat muncul dalam dalam bentuk perubahan perilaku yang menyimpang atau dalam menurunnya hasil belajar. Perilaku yang menyimpang juga, muncul dalam berbagai bentuk seperti : suka mengganggu teman,merusak alat-alat pelajaran, sukar memusatkan perhatian, sering termenung, menangis, hiferaktif ( terlalu aktif ),atau sering bolos. Meskipun perilaku yang menyimpang dapat merupakan indikasi (petunjuk) adanya kesulitan belajar, namun tidak semua perilaku yang menyimpang dapat disamakan dengan munculnya kesulitan belajar.untuk membedakannya, pengalaman guru dalam menangani hal ini sangat diperlukan.
Menurunnya hasil belajar dapat dilihat dari hasil latihan, baik latihan dikelas maupun pekerjaan rumah, hasil ulangan harian dan sumatif atau penyesuaian tugas-tugas sekolah yang lain.[26]
Seperti telah dijelaskan bahwa anak didik yang mengalami kesulitan belajar adalah anak didik yang tidak dapat belajar secara wajar, disebabkan adanya ancaman, hambatan, ataupun gangguan dalam belajar, sehingga menampakkan gejala-gelaja yang bisa diamati oleh orang lain, guru ataupun orang tua.
Beberapa gejala sebagai indikator adanya kesulitan belajar anak didik. Dapat dilihat dari petunjuk-petunjuk berikut.
1.   Menunjukkan prestasi belajar yang rendah, dibawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompok anak didik dikelas
2.   Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan.padahal anak didik sudah berusaha belajar dengan keras, tetapi nilainya selalu rendah
3.   Anak didik lambat dalam mengerjakan tugas-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dengan kawan-kawannya dalam segala hal.
4.   Anak didik menunjukkan sikap kurang wajar, seperti :
a. acuh tak acuh
b. berpura-pura
c. berdusta
d. mudah tersinggung.
5. Anak didik menunjukkan tingkah laku yang tidak seperti biasanya ditunjukkan kepada orang lain. Dalam hal ini misalnya anak didik menjadi:
a.  pemurung
b.  pemarah
c.  selalu bingung
d.  selalu sedih
e.  kurang gembira
f.  mengasingkan diri dari kawan-kawan sepermainan.
6.   Anak didik yang tergolong memiliki IQ tinggi, yang secara potensial mereka seharusnya meraih prestasi belajar yang tinggi, tetapi kenyataannya mereka mendapatkan prestasi belajar yang rendah.
7.   Anak didik yang selalu menunjukkan prestasi belajar yang tinggi untuk sebagian besar mata pelajaran, tetapi di lain waktu prestasi belajarnya menurun drastis[27]
Salah satu metode pemberian bantuan kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajar, khususnya kesulitan belajar agama adalah menerapkan prosedur dan langkah-langkah sistematis yang disebut diagnosis kesulitan belajar dan cara memberikan bantuan pemecahannya.
Dalam langkah-langkah diagnosis tergambar segala usaha pembimbing agama dengan menerapkan berbagai cara/teknik untuk menolong anak didik agar terlepas dari segala kesulitan, baik yang berbentuk gangguaan perasaan, kurangnya minat, konflik-konflik batin, perasaan rendah diri, kurangnya kepercayaan pada diri sendiri,gangguan mental dan fisik, maupun yang berlatar belakang kehidupan social, keraguan-keraguan terhadap kebenaran ajaran agamanya, dan sebagainya.
Adapun langkah-langkah tersebut terdiri dari beberapa kegiatan sebagai berikut :
a.  Tujuannya  : untuk mencari dan menemukan diantara siswa-siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar yang serius dan memerlukan bantuan.
b.  Tekniknya  : dengan memanfaatkan catatan /rekaman tentang hal ikhwal yang menyangkut kegiatan belajarnya untuk dianalisis
c.  Prosedurnya : mengumpulkan nilai-nilai dari seluruh bidang studi dalam satu kelas untuk :
1.  Dihitung nilai rata-rata dari setiap siswa
2.  Dihitung nilai rata-rata seluruh siswa dikelas itu.
3.  Dibuatkan grafik untuk mengetahui posisi siswa dalam kelas berdasarkan nilai rata-rata itu
4.  Siswa  yang nilai rata-ratanya berada dibawah rata-rata umum kelas, ditandai sebagai siswa yang berprestasi rendah dan ia tentu mengalami kesulitan belajar.
5.  Pada akhirnya ditetapkan siswa-siswa yang paling banyak mengalami kesulitan belajar, yaitu mereka yang nilai rata-ratanya paling rendah dibawah rata-rata nilai umum kelas.[28]
4.    Usaha Mengatasi Kesulitan Belajar
Langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam rangka usaha mengatasi kesulitan belajar anak didik, dapat dilakukan melalui enam tahap, yaitu sebagai berikut :
a.  Pengumpulan data
Untuk menemukan sumber penyebab kesulitan belajar diperlukan banyak informasi. Untuk memperoleh informasi perlu diadakan pengamatan langsung terhadap objek yang bermasalah. Teknik interviu (wawancara) ataupun teknik dokumentasi dapat dipakai untuk mengumpulkan data.

b.  Pengolahan data
Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam rangka pengolahan data adalah sebagai berikut :
a.  Identifikasi kasus
b.  Membandingkan antar kasus
c.  Membendingkan dengan hasil tes
d.  Menerik kesimpulan
c.  Diagnosis
Mengenal :
a.  Jenis kesulitan
b.  Faktor umum
c.  Faktor utama
d.  Prognosis
Mengenai :
a.  Bentuk treatment
b.  Bahan/materinya
c.  Metode/strategi
d.  Alat-alat bantu
e.  Waktu/jadwal
e.  Treatment
Bentuknya :
a.  Bimbingan belajar
b.  Bimbingan pribadi
c.  Bimbingan kelompok
d.  Bimbingan orang tua
e.  Bimbingan teaching
f.  Evaluasi
Pengecekan kembali hanya dilakukan bila terjadi dikegagalan treatment berdasarkan evaluasi, dimana hasil prestasi belajar anak didik masih rendah, di bawah standar. Dalam rangka pengecekan kembali atas kegagalan treatment, secara teoritis langkah-langkah yang perlu ditempuh adalah sebagai berikut :
a.  Re-ceking data(baik yang berhubungan dengan masalah pengumpulan maupun pengolahan data)
b.  Re-diagnosis
c.  Re-pragnosis
d.  Re-treatment
e.  Re-evaluasi[29]
C.      Konsep Operasional
Konsep operasional adalah konsep yang dibangun dari teori-teori yang digunakan untuk menjelaskan variabel-variabel yang akan diteliti. Konsep operasional tersebut selanjutnya dijadikan alat ukur dalam suatu penelitian.
Konsep yang akan dioperasionalkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.  Variabel X (Variabel bebas)
Variabel bebas didalam penelitian ini adalah langkah-langkah yang harus diterapkan guru dalam mengimplementasikan bimbingan dan koseling terhadap kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran akidah akhlak Di madrasyah Aliyah Negeri 1 Mandah.
1    Guru menentukan masalah yang dihadapi siswa dalam belajar Akidah Akhlak
2    Guru mengumpulkan data siswa yang mengalami masalah dalam belajar akidah akhalak yaini mengumpulkan data siswa dengan tes dan Nontes
3    Guru melakukan analisa data siswa dalam belajar Akidah Akhlak
4    Guru melakukan diagnosis kepada siswa dalam belajar Akidah Akhlak
5    Guru menetapkan langkah-langkah bantuan yang akan diberikan kepada siswa dalam belajar Akidah Akhlak
6    Guru memberikan bantuan atau pelaksanaan yang telah ditetapkan dalam langkah-langkah prognosis
7    Guru melakukan evaluasi kepada siswa dalam belajar Akidah Akhlak untuk mengetahui sejauh mana bantuan yang diberikan kepada siswa dalam belajar Akidah Akhlak itu tercapai
8    Guru melihat perkembangan siswa dalam belajar Akidah Ahklak.
b.  Variabel Y ( Variabelterikat )
Variabel terikat didalam penelitian ini adalah kesulitan belajar siswa, dengan indikator sebagai berikut :
1.  Siswa Menunjukkan prestasi belajar yang rendah, dibawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompok anak didik dikelas
2.  Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan.padahal anak didik sudah berusaha belajar dengan keras, tetapi nilainya selalu rendah
3.  Siswa lambat dalam mengerjakan tugas-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dengan kawan-kawannya dalam segala hal.
4.  Siswa menunjukkan sikap kurang wajar, seperti :
a. acuh tak acuh
b. berpura-pura
c. berdusta
d. mudah tersinggung.
5. Siswa menunjukkan tingkah laku yang tidak seperti biasanya ditunjukkan kepada orang lain. Dalam hal ini misalnya anak didik menjadi:
a.  pemurung
b.  pemarah
c.  selalu bingung
d.  selalu sedih
e.  kurang gembira
f.  mengasingkan diri dari kawan-kawan sepermainan.
6.   Siswa yang tergolong memiliki IQ tinggi, yang secara potensial mereka seharusnya meraih prestasi belajar yang tinggi, tetapi kenyataannya mereka mendapatkan prestasi belajar yang rendah.
7.   Siswa yang selalu menunjukkan prestasi belajar yang tinggi untuk sebagian besar mata pelajaran, tetapi di lain waktu prestasi belajarnya menurun drastis.
D.  Asumsi dasar dan hipotesa
1. Asumsi dasar
a. Implementasi Bimbingan dan Konseling akan dapat dilaksanakan dengan baik dengan mengetahui kesulitan belajar siswa yang dihadapi
b. Kesulitan belajar siswa yang dihadapi dapat diatasi dengan mengimplementasikan bimbingan dan konseling
2. Hipotesa
Menurut Sekaran, mendifinisikan hipotesis sebagai hubungan yang diperkirakan secara logis diantara dua atau lebih variabel yang diungkap dalam bentuk pernyataan yang dapat diuji. Hipotesis merupakan jawaban sementara atas pertanyaan penelitian.[30]
Hipotesa yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Ha : Terdapat Implementasi bimbingan dan konseling terhadap kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak di Sekolah Madrasah Aliyah Negeri 1 Mandah
Ho : Tidak terdapat Implementasi yang sifnifikan antara bimbingan dan konseling terhadap kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak di Sekolah Madrasah Aliyah Negeri 1 Mandah






BAB III
METODE PENELITIAN

A.  Lokasi Dan Waktu Penelitian
1. Lokasi penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Madrasah Aliyah Negeri 1 Mandah kecamatan Mandah
2. Waktu peneltian
Pelaksanaan penelitian ini diperkirakan selama 3 bulan 
B.  Subjek dan objek penelitian
1. Subjek
Menurut H.M Musfiqon, “ subjek penelitian adalah sumber data yang dapat berupa orang, tempat, dokumen”.[31] Subjek dalam penelitian ini adalah guru mata pelajaran Akidah Akhlak di Sekolah Madrasah Aliyah Negeri 1 Mandah dan siswa Madrasyah Aliyah Negeri 1 Mandah


48
 
2. Objek
Objek penelitian adalah “ pokok soal yang hendak diteliti”.[32] Objek dalam penelitian ini adalah Implementasi bimbingan dan konseling terhadap kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak di Sekolah Madrasah Aliyah Negeri 1 Mandah
C.  Populasi dan sampel penelitian
1. Populasi penelitian
Populasi atau universi adalah keseluruhan objek yang diteliti, baik berupa orang, benda, kejadian, nilai maupun hal-hal yang terjadi.[33]
populasi didalam penelitian ini adalah 2 orang guru Akidah Akhlak dan 143 orang siswa di Sekolah Madrasah Aliyah Negeri 1 Mandah
2. Sampel penelitian
Sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi yang akan diselidiki atau dapat juga dikatakan bahwa sampel adalah populasi dalam bentuk mini (miniatur population).[34]  Menurut suharsimi Arikunto, dinyatakan bahwa :

“ lebih baik jika populasi kurang atau sama dengan 100 maka lebih baik diambil semua, jika lebih dari 100 maka diambil sampel mulai dari 30% sampai 10% tergantung jumlah populasi, semakin banyak populasi maka semakin kecil angka persentasenya.[35]

Sampel untuk guru dalam penelitian ini tidak ada. Sedangkan  sampel untuk siswa sebanyak 29%, yaitu 143 x 29% = 41,47 dan dibulatkan menjadi 41 orang. maka sampel dalam penelitian ini sebanyak 41 orang siswa yang diambil dari tiap kelas secara acak atau disebut random sampling berstrata.
Adapun nama-nama siswa yang menjadi sampel tersebut adalah sebagai berikut :
Tabel i.i
Daftar Nama Sampel Penelitian

No.
Nama Siswa
Kelas
1
Amri Fahrizal
XI
2
M. Syafwatul Amin
XI
3
M. Thomas Hasmayuda
XI
4
Muhammad Helmi
XI
5
Rahmat
XI
6
Rajenah S
XI
7
S Efendi
XI
8
Surwedi
XI
9
Syahroni Yanto
XI
10
Agus Maulana
X-2
11
Andri Gunawan
X-2
12
Candra Gunawan
X-2
13
Hamdi
X-2
14
Jumadi
X-2
15
M.Zarkasi
X-2
16
Masitah
X-2
17
Mutia Sahroja
X-2
18
Randi Mamdani
X-2
19
Suhaimi
X-2
20
Suhardi
X-2
21
Ardan
X-3
22
Febri Rizki
X-3
23
Hamsar
X-3
24
Panji Fitri Mansyah
X-3
25
Rahmani
X-3
26
M.Nazri
XI IPS-1
27
M.Rizal
XI IPS-1
28
Maspar
XI IPS-1
29
Miswadi
XI IPS-1
30
Muslim
XI IPS-1
31
Rosni K
XI IPS-1
32
Andrianto
XI IPS-2
33
Bambang Harianto
XI IPS-2
34
Basri
XI IPS-2
35
Jeka
XI IPS-2
36
Jumadi
XI IPS-2
37
M. Mulyadi
XI IPS-2
38
M. Nazir
XI IPS-2
39
Maya Sari
XI IPS-2
40
Indri Saputra
XI IPA
41
Roslan
XI IPA

D.  Teknik pengumpulan data
Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan teknik sebagai berikut :
1. Observasi
Observasi adalah metode pengumpulan data penelitian dengan melalui pengamatan terhadap objek yang diteliti.[36]
Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui letak kesulitan belajar yang dihadapi siswa, disini peneliti meneliti langsung proses belajar siswa untuk mengetahui letak kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran akidah akhlak.
2. Wawancara
Pengumpulan data yang dilakukan dengan berhadapan secara langsung dengan yang diwawancarai tetapi dapat juga diberikan daftar pertanyaan terlebih dahulu untuk dijawab pada kesempatan lain.[37]
Dalam penelitian ini wawancara dilakukan kepada guru mata pelajaran Akidah Akhlak, tentang Implementasi Bimbingan dan konseling terhadap kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak di Sekolah Madrasah Aliyah Negeri 1 Mandah.
3. Dokumentasi
Dukumenter (ducumentary study) merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dukumen-dukumen baik dukumen tertulis, gambar maupun elektronik.[38]
Dalam penelitian ini dukumen dilakukan untuk memperoleh data tentang kondisi objektif dalam satu penelitian tentang Implementasi Bimbingan dan Konseling terhadap kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran Akidah akhlak di Sekolah Madrasah Aliyah Negeri 1 Mandah.
E.  Teknik Analisa Data
Data yang sudah terkumpul, peneliti kualifikasikan atau tuangkan kedalam bentuk angka-angka, sehingga data tersebut bersifat kuantitatif. Untuk selanjutnya dianalisa dan dijelaskan dalam bentuk deskriptif. Pengalihan data kedalam bentuk kuantitatif ini ditempuh dengan menggunakan rumus :
P  =  X 100 %
Keterangan :
P   = Angka Persentase
F   = Frekuensi
N   = Banyak Individu
Sedangkan standar katagori yang digunakan adalah :
81%  - 100% katagori sangat baik
61%  - 80%  katagori baik
41%  - 60%  katagori cukup baik
21%  - 40%  katagori tidak baik
0%   - 20%  katagori sangat tidak baik[39]
Adapun langkah menentukan berimplementasi atau tidaknya bimbingan dan konseling terhadap kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran Akidh Akhlak di Madrasyah Aliyah Negeri 1 Mandah dicari dengan rumus uji t:

t    =
keterangan :
t     =  nilai deviasi pada distribusi t
X     =  nilai rata-rata variable x
Y     =  nilai rata-rata variable y
S2 X-Y   =  Standar deviasi
nx       =  jumlah sampel X
NY    =  Jumlah sampel Y[40]
Terlebih dahulu mencari nilai rata-rata variable X, yaitu :
Nilai  =
Selanjutnya mencari nilai rata-rata variable Y, Yaitu:
Nilai  =
Selanjutnya mencari varians (S2XY) Dengan rumus sebagai berikut :
S2XY =
Kriterianya adalah jika – ttabel  ttabel, maka HO diterima, dan Ha di tolak





















DAPTAR PUSTAKA

Abin Syamsuddin Makmun, (2012), Psikologi Kependidikan, Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Anas Salahudin, (2010),Bimbingan Dan Konseling, Bandung : CV.Pustaka Setia

Burhan Bungin, (2010),  Metodologi Penelitian Kuantitatif, Jakarta : Prenada Media Group

Departemen pendidikan Nasional, (2000), Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka

Dewa Ketut Sukardi, (2000),  Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah, Jakarta : PT. Rineka Cipta

Fenti Hikmawati, (2012), Bimbingan Dan Konseling Edisi Revisi, Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada

              , (2014), Bimbingan dan konseling, Jakarta : PT RajaGrapindo Persada

H.M. Musfiqon, (2012), Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta : Prestasi Pustakakarya

H.M. Umar dan Sartono, (2001), Bimbingan Dan Penyuluhan, Bandung : Pustaka Setia

Johni Dimyati, (2003), Metode Penelitian Pendidikan  Dan Aplikasinya  Pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Jakarta : Kencana

Juliansyah Noor, (2011),Metodologi Penelitian, Jakarta : Kencana
 

Moh. Rifa.I, dkk., (2002), Akidah Akhlak, Semarang : CV.Wicaksana, Jilid I

Muhibbin Syah, (1995), Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, Bandung : Rosda

Mulyono Abdurrahman, (2012), Anak Berkesulian Belajar, Jakarta : Rineka Cipta

Nana Syaodin Sukmadinata, (2012), Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

Neoni Nasution, (1997), Materi Pokok Psikologi Pendidikan, Jakarta : derektorat jendral pembinaan kelembagaan agama islam. Depertemen agama

Prayitno dan Erman Amri, (2004), Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling, Jakarta : Rineka Cipta

Riduwan, (2002), Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian, Bandung : Al- Fabeta

       , (2010), Dasar - Dasar Statistika,Bandung : Alfabeta

Soetjipto, Raflis Kosasi, (2009), Propesi keguruan, Jakarta : Rineka Cipta

Suharsimi Arikunto, (2008), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta : Rineka Cipta

Syaiful Bahri Djamarah, (2008), Psikologi Belajar Edisi 2,Jakarta : Rineka Cipta

Tohirin, (2007), Bimbingan Dan Konseling, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

Wiji Suwarno, (2009), Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, Yokyakarta : Ar-Ruzz Media

Zainal Arifin, (2012),  Penelitian pendidikan, Bandung : PT.Remaja Rosdakarya




















KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIAN
IMPLEMENTASI BIMBINGAN DAN KONSELING TERHADAP KESULITAN BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN AKIDAH AKHLAK DI MADRASYAH ALIYAH NEGERI 1 MANDAH

No
Variabel
Aspek yang diteliti
Tehknik Analisa data
1
Variable X
9    Guru menentukan masalah yang dihadapi siswa dalam belajar Akidah Akhlak
10   Guru mengumpulkan data siswa yang mengalami masalah dalam belajar akidah akhalak yaini mengumpulkan data siswa dengan tes dan Nontes
11   Guru melakukan analisa data siswa dalam belajar Akidah Akhlak
12   Guru melakukan diagnosis kepada siswa dalam belajar Akidah Akhlak
13   Guru menetapkan langkah-langkah bantuan yang akan diberikan kepada siswa dalam belajar Akidah Akhlak
14   Guru memberikan bantuan atau pelaksanaan yang telah ditetapkan dalam langkah-langkah prognosis
15   Guru melakukan evaluasi kepada siswa dalam belajar Akidah Akhlak untuk mengetahui sejauh mana bantuan yang diberikan kepada siswa dalam belajar Akidah Akhlak itu tercapai
16   Guru melihat perkembangan siswa dalam belajar Akidah Ahklak.
Wawancara
2
Variabel Y
8. Siswa Menunjukkan prestasi belajar yang rendah, dibawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompok anak didik dikelas
9. Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan.padahal anak didik sudah berusaha belajar dengan keras, tetapi nilainya selalu rendah
10.     Siswa lambat dalam mengerjakan tugas-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dengan kawan-kawannya dalam segala hal.
11.     Siswa menunjukkan sikap kurang wajar, seperti :
e.  acuh tak acuh
f.  berpura-pura
g.  berdusta
h.  mudah tersinggung.
12.     Siswa menunjukkan tingkah laku yang tidak seperti biasanya ditunjukkan kepada orang lain. Dalam hal ini misalnya anak didik menjadi:
g.  pemurung
h.  pemarah
i.  selalu bingung
j.  selalu sedih
k.  kurang gembira
l.  mengasingkan diri dari kawan-kawan sepermainan.
13.     Siswa yang tergolong memiliki IQ tinggi, yang secara potensial mereka seharusnya meraih prestasi belajar yang tinggi, tetapi kenyataannya mereka mendapatkan prestasi belajar yang rendah.
14.     Siswa yang selalu menunjukkan prestasi belajar yang tinggi untuk sebagian besar mata pelajaran, tetapi di lain waktu prestasi belajarnya menurun drastis.
Observasi






[1]Wiji Suwarno, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, ( Yokyakarta : Ar-Ruzz Media, 2009 ), Hlm. 20
[2]Tohirin, Bimbingan Dan Konseling, ( Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2007 ), Hlm. 105


[3]Ibid, Hlm. 39
[4]Soetjipto, Raflis Kosasi, Propesi keguruan, ( Jakarta : Rineka Cipta, 2009), Hlm. 65

[5]Departemen pendidikan Nasional, Kamus besar bahasa indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 2000 ), Hlm. 427
[6]Fenti Hikmawati, Bimbingan dan konseling, ( Jakarta : PT RajaGrapindo Persaada, 2014 ), Hlm. 1
[7]Depertemen pendidikan nasional, Op.Cit, Hlm. 1100
[8]Abin Syamsuddin Makmun,  Psikologi kependidikan, ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2012 ),Hlm. 157
[9]Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar Edisi 2,( Jakarta : Rineka Cipta : 2008 ),Hlm. 237
[10]Moh. Rifa.I, dkk., Akidah Akhlak, ( Semarang : CV.Wicaksana, 2002 ). Jilid I, Hlm. 2
[11]H.M. Umar dan Sartono, Bimbingan Dan Penyuluhan, ( Bandung : Pustaka Setia, 2001), Hlm.9
[12]Tohirin, Op. Cit, Hlm.16
[13]Fenti Hikmawati, Bimbingan Dan Konseling Edisi Revisi, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2012), Hlm. 1
[14]Prayitno dan Erman Amri, Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling, ( Jakarta : Rineka Cipta, 2004), Hlm.21-22
[15]Ibid, Hlm. 100
[16]Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2000), Hlm. 26-27
[17]Ibid, Hlm. 28-29
[18]Anas Salahudin, Bimbingan Dan Konseling, ( Bandung : CV.Pustaka Setia, 2010),Hlm. 95-96
[19]Tohirin, Op.Cit, Hlm. 317-321
[20]M. Umar dan Sartono, Op.Cit. Hlm. 149-150
[21] Mulyono Abdurrahman, Anak Berkesulian Belajar, ( Jakarta : Rineka Cipta, 2012 ), Hlm. 1-2
[22]Abin Syamsuddin Makmun, Op.Cit, Hlm. 307-308
[23]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, ( Bandung : Rosda, 1995), Hlm. 173-174
[24] Syaiful Bahri Djamarah, Op.Cit, Hlm. 237-238
[25] Ibid, Hlm. 239-240
[26] Neoni Nasution, Materi Pokok Psikologi Pendidikan, ( Jakarta : derektorat jendral pembinaan kelembagaanagama islam. Depertemen agama, 1997 ), Hlm. 216
[27]Syaiful Bahri Djamarah, Op.Cit, Hlm. 246-247
[28] H.M. Umar dan Sartono, Op.Cit, Hlm. 53-54
[29] Syaiful Bahri Djamarah, Op.Cit, Hlm. 250-256
[30]Juliansyah Noor, Metodologi Penelitian, (Jakrata : Kencana, 2011),Hlm. 79
[31]H.M. Musfiqon, Metodologi Penelitian Pendidikan, ( Jakarta : Prestasi Pustakakarya,2012 ),Hlm. 97
[32]Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kuantitatif, ( Jakarta : Prenada Media Group, 2010 ), Hlm. 41
[33]Zainal Arifin, Penelitian pendidikan, (Bandung : PT.Remaja Rosdakarya, 2012), Hlm. 215
[34]Ibid, Hlm. 215
[35]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,( Jakarta : Rineka Cipta, 2008 ), Hlm. 26
[36]Johni Dimyati, Metode Penelitian Pendidikan  Dan Aplikasinya  Pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), ( Jakarta : Kencana, 2003), Hlm. 92
[37]Juliansyah Noor, Op. Cit, Hlm. 138
[38]Nana Syaodin Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2012), Hlm. 221
[39]Riduwan, Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian, ( Bandung : Al- Fabeta, 2002), Hlm.2
[40]Riduwan, Dasar - Dasar Statistika,(Bandung : Alfabeta, 2010), Hlm. 213-214

Tidak ada komentar:

Posting Komentar